Rabu, 28 September 2011

menempatkan Widjet Blogger Di Halaman Awal/Halaman Posting Saja

Kadang untuk memaksimalkan tampilan blog, penempatan widget yang pas, sangat berpengaruh. Tidak semua widget harus muncul di halaman utama.Karena selain halaman yang terbatas, memunculkan semua widget di satu halaman yang sama tentu bisa membuat blog jadi berat/lelet. Jadi sebaiknya penempatan widget di atur sesuai dengan kebutuhannya. Ada yang ditampilkan di halaman utama saja,tapi tidak muncul dihalaman selanjutnya. Begitu juga sebaliknya.
Tips ini sebenarnya banyak di share oleh para pakar blogging, tinggal ketik “Tips Menampilkan Widget Di Halaman Utama” pada kolom penelusuran milik mbah gugel, otomatis bermunculan blog atau website yang menulis artikel tersebut. Ssstt, sebenarnya aku juga dapet ini dari blog Ali’s Blogger , teman sesama blogger maniac. (tapi tenang aja, udah izin koq J)
Yuk langsung ke TKP ..!
  • Login
  • Rancangan /Tata Letak
  • Edit HTML
  • centang Expand Template Widget
  • Seperti biasa, jangan lupa klik Download Template Lengkap, buat jaga-jaga kalau terjadi kesalahan.
  • Cari kode widget yang akan ditampilkan, gunakan ctrl + F pada keyboard untuk memudahkan pencarian. Kalau widget yang ingin ditampilkan ada judulnya, maka sobat tinggal ketik Judul Widget di kolom pencarian. Biasanya kodenya seperti berikut :
</b:includable>
</b:widget>
<b:widget id='HTML8' locked='false' title='JUDUL WIDGET' type='HTML'>
<b:includable id='main'>
  <!-- only display title if it's non-empty -->
  <b:if cond='data:title != &quot;&quot;'>
    <h2 class='title'><data:title/></h2>
  </b:if>
  <div class='widget-content'>
    <data:content/>
  </div>
  <b:include name='quickedit'/>
</b:includable>

Kalau sudah ketemu, sobat hanya menambahkan sedikit kode yang diletakkan di bawah  kode <b:includable id='main'>
Dan menambah tag penutup </:if> sebelum kode </b:includable>
Lebih rinci perhatikan susunan kode script nya :
Menampilkan Widget Hanya Pada Halaman Utama,
kodenya seperti ini :
</b:includable>
</b:widget>
<b:widget id='HTML8' locked='false' title='JUDUL WIDGET' type='HTML'>
<b:includable id='main'>
<b:if cond='data:blog.url == data:blog.homepageUrl'>
  <!-- only display title if it's non-empty -->
  <b:if cond='data:title != &quot;&quot;'>
    <h2 class='title'><data:title/></h2>
  </b:if>
  <div class='widget-content'>
    <data:content/>
  </div>
  </b:if>
</b:includable>


Menampilkan Widget Hanya Pada Postingan,
kodenya seperti ini 
</b:includable>
</b:widget>
<b:widget id='HTML8' locked='false' title='JUDUL WIDGET' type='HTML'>
<b:includable id='main'>
<b:if cond='data:blog.pageType == &quot;item&quot;'> <!-- Hide widget at HOME Page -->
  <!-- only display title if it's non-empty -->
  <b:if cond='data:title != &quot;&quot;'>
    <h2 class='title'><data:title/></h2>
  </b:if>
  <div class='widget-content'>
    <data:content/>
  </div>
  </b:if>
</b:includable>

Simpan template.

Selesai. Buat sobat yang masih bingung, silahkan tanyakan di kolom komentar atau klik link sumber di bawah ini. Mudah-mudahan bermanfaat.Sumber InspirasiCara Memasang Widget Hanya Di Halaman Awal/Depan | Ali’s Blogger 

Selasa, 27 September 2011

Terbaik Diantara Yang Terbaik

“Jika ada 1 juta pejuang islam, maka salah satunya adalah aku. Jika ada 1000 pejuang islam, maka salah satunya aku. Jika ada 1 pejuang islam, maka itulah aku”
Ungkapan diatas sering sekali dikutip mereka yang merasa sebagai pejuang islam. Ya, ungkapan itu memang istimewa, membangkitkan semangat dan memang wajib menjadi jiwa para pejuang. Ungkapan diatas cukup untuk memotivasi , menyindir, ataupun “menampar” bagi para aktivis yang mulai larut dalam kemalasan (futur).
Semangat untuk menjadi yang istimewa diantara yang tidak istimewa tentu adalah pilihan yang biasa. Namun menjadi yang paling istimewa diantara yang istimewa tentu hal ini adalah pilihan yang luar biasa. Sesuatu yang luar biasa pasti akan lebih berat dan sesuatu yang berat pasti lebih sedikit orangnya.
Kisah pasukan Thalut cukup menjadi pelajaran yang berharga tentang bagi kita. Pasukan Thalut sewaktu haus dan melewati sungai namun dilarang minum kecuali seteguk saja. Ternyata sedikit sekali yang mengindahkan larangan tersebut, sehingga tinggal sedikit pasukan Thalut yang berangkat untuk mengalahkan Jalut.
Ingat juga ketika Rasulullah Muhammad SAW bersama pasukannya berangkat perang uhud, namun ternyata banyak sekali yang memutar kuda dan memilih kembali karena takut mati. Ingat pula perang khandaq yang pada saat itu madinah dikepung pasukan koalisi kafir ditambah cuaca yang ekstri, sehingga sahabat rasulullah SAW yang tersisa tinggal 300.
Saya juga pernah membaca buku yang berjudul “Pesan-pesan menggugah untuk pengemban dakwah”, yang mana didalam buku itu berisi bahasan-bahasan yang “menampar” para aktivis dakwah. Penulis buku itu menyebutkan bahwa terkadang kader dakwah dalam satu kampung jika dilihat datanya jumlahnya sangat banyak, bisa puluhan bahkan mencapai ratusan. Namun ternyata terdapat fakta yang memprihatinkan, dimana hanya sedikit sekali aktivis dakwah yang mau terjun all-aout untuk dakwah ini. Mayoritas ternyata hanya menjadikan dakwah ini sebagai sambilan, sehingga prioritasnya berada pada urutan kesekian.
Saya juga pernah melihat video dimana seorang mbah-mbah semangat sekali berdakwah dengan menyebarkan buletin Al-Islam kepada tetangga-tetangganya hingga satu kampung. Ada juga yang menderita cacat namun juga dengan semangatnya terus berdakwah. Merekalah orang yang bisa menjadi “tamparan” keras bagi kita-kita yang secara fisik sempurna ini. Terkadang rasa malas masih mendera, mencari seribu alasan untuk meninggalkan dakwah, bahkan menyalahkan dakwah karena aktivitas lainnya merasa terganggu “gara-gara” dakwah.
Sudah saatnya kita meninggalkan rasa “malas berbuat kebaikan” dan membuangnya ditempat sampah, jangan pernah memungut lagi! Itupun jika kita ingin menjadi yang terbaik diantara yang terbaik, jika tidak, maka nikmatilah rasa malas itu selagi rasa penyesalan belum datang. (Zulfahmi, 27 September 20011)

Minggu, 25 September 2011

Interaksi Dakwah Rasulullah SAW

Menentangan kafir Quraisy terhadap dakwah Islam merupakan hal
yang alami. Hal ini karena beliau saw mengemban dakwah dan
menampakkan kutlah dakwahnya secara terus menerus dan
menantang siapa pun. Di samping itu, esensi dakwah memang
mengandung perlawanan terhadap kafir Quraisy dan masyarakat Makkah,
karena dakwah Rasul mengajak mengesakan Allah, beribadah hanya
kepada-Nya, dan meninggalkan penyembahan pada berhala, serta
melepaskan diri dari semua sistem yang rusak di mana mereka hidup di
dalamnya.
       Karena itu, dakwah Rasul berbenturan dengan kafir Quraisy secara
menyeluruh. Bagaimana mungkin dakwah Rasul saw tidak berbenturan
dengan kafir Quraisy, sementara beliau selalu melecehkan khayalan
mereka, merendahkan tuhan-tuhan mereka, menyebarkan rusaknya
kehidupan mereka yang rendah, dan mencela cara-cara kehidupan
mereka yang sesat. Al-Quran senantiasa turun kepada beliau, dan
menyerang mereka dengan gamblang :

“Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah adalah
umpan neraka jahannam.” (TQS. al-Anbiya’ [21]: 98).
      Al-Quran juga menyerang praktek riba yang telah mewarnai
kehidupan mereka dengan hantaman yang sangat keras terhadap
sendi-sendi pokoknya. Dalam surat ar-Rum [30]: 39, Allah SWT
berfirman:
“Dan segala hal yang kalian datangkan berupa riba agar dapat
menambah banyak pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah
(apa pun) di sisi Allah.”
       Al-Quran mengancam orang-orang yang melakukan kecurangan
dalam takaran dan timbangan. Allah SWT berfirman :

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-
orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta
dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang
lain, mereka mengurangi.” (TQS. al-Muthaffifin [83]: 1-3).
        Akibatnya orang kafir Quraisy mengambil sikap menghalangi di
depan beliau dan menyakiti beliau serta para sahabatnya. Kadang dengan
penyiksaan, pemboikotan, maupun propaganda menentang beliau dan
agamanya. Hanya saja, beliau terus menerus menyerang mereka,
melanjutkan penyerangan terhadap berbagai opini yang salah,
menghantam keyakinan-keyakinan yang rusak, dan berjuang keras dalam
menyebarluaskan dakwah. Beliau menyerukan Islam secara terang-
terangan, tidak dengan sindiran, tidak dengan isyarat, tidak dengan lemah
lembut, tidak dengan merendah, tidak dengan belas kasihan, dan tidak
dengan bermanis muka, meskipun yang beliau dapatkan dari kafir Quraisy
adalah berbagai penganiayaan dan kesengsaraan. Padahal beliau
sendirian tanpa pembantu maupun penolong, tidak ada seorang pun
yang menyertainya, juga tanpa senjata, namun beliau tetap berjalan terus
dan menantang dalam mengajak manusia kepada agama Allah dengan
kekuatan dan keimanan. Sedikitpun tidak ada kelemahan yang menyusup
ke dalam diri beliau dalam mengemban tugas dakwah dan selalu siap
menanggung beban berat demi dakwah. Karena itu, hal tersebut sangat
berpengaruh dalam mengatasi berbagai kesulitan yang ditempatkan
secara sengaja di hadapan beliau oleh kafir Quraisy, agar menjadi
penghalang antara beliau dengan masyarakat. Meskipun demikian, Rasul
saw tetap dapat berinteraksi dengan masyarakat dan menyampaikan
dakwah kepada mereka. Sehingga mereka menerima agama Allah dan
kekuatan kebenaran dapat mengalahkan kebatilan. Cahaya Islam setiap
hari makin menyebar di kalangan bangsa Arab. Banyak para penyembah
berhala dan orang-orang nasrani yang memeluk Islam. Bahkan, para
pemimpin Quraisy sering mendengarkan al-Quran dan hati mereka amat
tersentuh mendengarkannya.
         Thufail bin ‘Amru ad-Dausiy datang ke Makkah. Dia adalah
seorang laki-laki mulia, ahli syair dan cerdas. Sementara itu kaum Quraisy
meniupkan fitnah kepadanya agar berhati-hati pada Muhammad dan
menyatakan bahwa ucapan Muhammad adalah sihir yang dapat
memisahkan seseorang dari keluarganya. Mereka juga menakut-nakuti
Thufail dan kaumnya sebagaimana yang dilakukan mereka terhadap
orang-orang Makkah, dan menyarankan kepadanya bahwa yang terbaik
adalah dia tidak berbicara dengan Muhammad dan tidak pula
mendengarkannya. Pada suatu hari, Thufail pergi ke Ka’bah dan Rasul
ada di sana. Tanpa sengaja Thufail mendengar sebagian sabda Rasul
dan dia mendapati bahwa itu merupakan ucapan yang baik. Lalu dia
berucap dalam hatinya, “Demi kemuliaan ibuku, demi Allah,
sesungguhnya aku seorang penyair yang cerdas, yang tidak satu pun hal
yang terpuji maupun tercela yang tersembunyi dariku! Lantas apa yang
mencegahku untuk mendengarkan apa yang dikatakan laki-laki ini. Jika
dia datang dengan membawa hal yang terpuji, pasti aku menerimanya,
dan jika dia datang dengan membawa hal tercela, maka aku akan
tinggalkan.” Kemudian dia mengikuti Rasul saw hingga ke rumahnya
dan memaparkan urusannya dan apa yang berkecamuk dalam dirinya
kepada Rasul saw. Beliau membacakan al-Quran kepadanya, maka dia
masuk Islam dengan mengucapkan syahadat kemudian kembali kepada
kaumnya untuk mengajak mereka memeluk Islam.
         Dua puluh orang laki-laki Nasrani menemui Rasul saw di Makkah,
saat telah sampai kepada mereka kabar tentang Rasul. Mereka pun duduk
di hadapan beliau, bertanya kepada beliau, dan mendengarkan beliau.
Kemudian mereka memenuhi ajakan beliau, beriman, dan membenarkan
beliau. Hal itu menyebabkan kafir Quraisy marah dan mengejek mereka
dengan kata-kata, “Celakalah kalian! Kalian diutus oleh kaum yang
seagama dengan kalian, agar kembali dengan membawa berita dari laki-
laki tersebut. Ternyata pertemuan kalian (dengan laki-laki itu)
menghasilkan kegoncangan, sampai kalian sanggup meninggalkan agama
kalian dan membenarkan segala hal yang diucapkan laki-laki itu”.
        Ucapan orang-orang kafir Quraisy ini tidak mampu memalingkan
rombongan tersebut dari mengikuti Nabi. Juga tidak mampu
memurtadkan mereka dari agama Islam. Bahkan, iman mereka kepada
Allah semakin bertambah. Karena itu, pengaruh Nabi semakin kokoh,
dan kerinduan manusia untuk mendengar al-Quran semakin bertambah.
Sehingga orang Quraisy yang paling memusuhi Islam pun mulai bertanya-
tanya pada diri mereka sendiri, benarkah bahwa dia (Muhammad)
menyeru kepada agama yang lurus dan segala apa yang dia janjikan
dan ancamkan kepada mereka adalah benar?
        Pertanyaan-pertanyaan mereka tersebut telah mendorong mereka
untuk secara sembunyi-sembunyi mendengarkan al-Quran. Abu Sufyan
bin Harb, Abu Jahal ‘Amru bin Hisyam dan al-Akhnas bin Syariq, keluar
pada suatu malam untuk mendengarkan Muhammad saw yang sedang
ada di rumahnya dan masing-masing mengambil tempat duduk untuk
melakukan hal itu. Satu sama lain tidak mengetahui tempatnya masing-
masing. Saat itu Muhammad saw sedang tahajjud sambil membaca al-
Quran secara tartil. Mereka mendengarkan ayat-ayat Allah. Hati dan jiwa
mereka terpesona. Mereka terus mendengarkan diam-diam, hingga
datang waktu fajar, lalu mereka berpisah kembali ke rumahnya masing-
masing. Namun, di tengah jalan mereka saling berpapasan, kemudian
saling mengejek satu sama lainnya. Sebagian dari mereka berkata kepada
yang lainnya, “Janganlah kalian mengulanginya lagi. Seandainya sebagian
orang-orang bodoh dari kalian mengetahui apa yang kalian telah lakukan,
niscaya hal itu akan melemahkan kedudukan kalian dan Muhammad
pasti dapat mengalahkan kalian!”
        Malam berikutnya, mereka masing-masing kembali dihinggapi
perasaan seperti yang mereka rasakan kemarin, seolah-olah kedua kaki
mereka menyeretnya tanpa mampu dicegah. Mereka ingin melakukan
hal yang sama seperti malam sebelumnya, yaitu mendengarkan
Muhammad saw membaca Kitab Tuhannya. Ketika mereka akan pulang
saat fajar, mereka kembali berpapasan dan saling mencela, namun hal
tersebut tidak mencegah mereka untuk melakukannya lagi pada malam
yang ketiga. Saat mereka menyadari kelemahan mereka terhadap dakwah
Muhammad saw, maka mereka berjanji untuk tidak mengulangi lagi
tindakan yang telah mereka lakukan tersebut. Mereka kubur keinginan
untuk mendengarkan Muhammad saw. Akan tetapi, semua yang telah
mereka dengar pada tiga malam tersebut telah meninggalkan pengaruh
dalam jiwa mereka, yang mendorong mereka untuk saling bertanya
pendapat masing-masing tentang apa yang telah mereka dengar. Mereka
semua tertimpa keraguan dalam dirinya dan khawatir dirinya menjadi
lemah, padahal mereka adalah pemimpin kaumnya. Mereka takut hal
tersebut akan melemahkan kaumnya dan beralih mengikuti Muhammad
Saw
        Demikianlah, dakwah terus berjalan di semua lini, meski berbagai
halangan berupa penindasan dari kafir Quraisy terus menghadang. Hal
itu semakin memperburuk kondisi kafir Quraisy dan semakin keras
kekhawatiran mereka terhadap penyebaran dakwah di antara kabilah-
kabilah Arab, setelah sebelumnya tersebar di Makkah. Karena itu, mereka
meningkatkan penganiayaan terhadap para pengembannya dan
memperbanyak cara-cara penindasannya. Maka, berbagai tindak kejam
mereka pun mendera beliau sehingga benar-benar menghimpit beliau.
Lalu beliau pergi ke daerah Thaif untuk mencari pertolongan dan
perlindungan dari Bani Tsaqif, sekaligus mengharapkan mereka masuk
Islam. Namun mereka menolak beliau dengan jawaban yang sangat
menyakitkan, dan menyuruh anak-anak mereka serta orang-orang bodoh
untuk mencaci maki Nabi dan melemparinya dengan batu sehingga kedua
kaki beliau berdarah. Beliau pun meninggalkan mereka dan pergi hingga
sampai di sebuah kebun anggur milik ‘Utbah dan Syaibah, dua anak
Rabi’ah. Di kebun itu beliau berpikir tentang urusan diri beliau dan
dakwahnya. Saat itu beliau tidak bisa masuk ke Makkah kecuali dengan
perlindungan salah seorang pemimpin Makkah yang musyrik. Di sisi lain,
beliau juga tidak bisa pergi ke Thaif setelah menghadapi penganiayaan.
Beliau juga tidak mungkin tetap berada di kebun anggur tersebut karena
perkebunan itu milik dua laki-laki musyrik. Kesulitan semakin menekan
beliau, lalu beliau menengadahkan kepalanya ke arah langit,
mengeluhkan keadaanya kepada Allah dalam kondisi yang sangat tersiksa.
Beliau berusaha membesarkan kepercayaannya pada Allah, mengharap
ridha-Nya seraya berdoa: “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan
lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya upayaku, serta tidak berdayanya
aku menghadapi manusia. Ya Arhamar-Rahimin, Engkau adalah Rabbnya
orang-orang yang lemah dan juga Rabbku. Kepada siapa aku akan
mengadu, apakah kepada seseorang yang sangat jauh yang menerimaku
dengan muka masam, ataukah kepada musuh yang menguasai
urusanku?. Jika saja kemurkaan-Mu tidak akan menimpaku, tentu aku
tidak peduli. Akan tetapi, ampunan-Mu lebih luas untukku. Aku
berlindung dengan Nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan 
memperbaiki urusan dunia dan akhirat; dari kemarahan-Mu yang akan
menimpaku atau kemurkaan-Mu yang akan melanda. Kuserahkan
kepada-Mu seluruh kesulitanku hingga Engkau ridha, tidak ada daya
dan kekuatan kecuali dari-Mu.”
          Kemudian beliau kembali ke Makkah dengan perlindungan
Muth’im bin ‘Adiy. Sementara itu orang-orang kafir Quraisy mengetahui
apa yang menimpa Muhammad di Thaif. Karena itu, mereka
meningkatkan penganiayaannya dan mengencangkan belenggu kesulitan
kepadanya. Mereka berusaha melarang masyarakat untuk
mendengarkannya. Sehingga penduduk Makkah dari kalangan Musyrik
berpaling darinya dan menolak untuk mendengarkannya lagi. Namun,
hal itu tidak mengalihkan Nabi saw dari aktivitas dakwah menyeru kepada
agama Allah. Beliau sendirilah yang langsung menghadapi kabilah-kabilah
Arab pada musim-musim keramaian untuk mengajak mereka kepada
Islam, menyampaikan kepada mereka bahwa dirinya adalah Nabi yang
diutus dan meminta mereka untuk membenarkannya. Hanya saja, paman
beliau Abdul ’Uzza bin Abdul Muthallib Abu Lahab, tidak pernah
membiarkannya, bahkan dia selalu mengikutinya ke manapun pergi dan
menggiring opini masyarakat untuk tidak mendengarkannya. Hal tersebut
sangat berpengaruh kepada mereka dan akhirnya tidak mau lagi
mendengarkannya. Rasul saw mendatangi berbagai kabilah di
pemukiman-pemukiman mereka dan menawarkan dirinya sendiri kepada
mereka. Beliau mendatangi Kindah dan Kalb di tempat mereka masing-
masing, juga Bani Hanifah dan Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah. Namun, tidak
seorang pun dari mereka yang mau mendengarkannya, dan mereka
semua menolaknya dengan kasar, bahkan Bani Hanifah menolak beliau
dengan cara yang sangat buruk. Sedangkan Bani ‘Amir, sangat berambisi
bila dia (Muhammad) menang atas mereka (orang-orang Arab), maka
kekuasaan akan beralih kepada mereka setelahnya (Nabi wafat). Namun
saat Nabi berkata kepada mereka bahwa seluruh urusannya terserah Allah
yang akan Dia berikan kepada siapa saja, maka mereka memalingkan
wajahnya dari beliau dan menolak beliau seperti yang lainnya.
          Dengan demikian penduduk Makkah berpaling dari Islam, begitu
juga penduduk Tha’if. Kabilah-kabilah Arab lainnya pun menolak dakwah
Rasul saw. Kabilah-kabilah yang datang untuk menunaikan haji ke Makkah
menyaksikan pengucilan yang dialami Muhammad saw, demikain juga
permusuhan Quraisy yang menghimpit beliau. Quraisy telah menjadikan
siapa saja yang menjadi penolong Nabi sebagai musuhnya dan sesuatu
yang harus dibalas. Oleh sebab itu, Quraisy makin meningkatkan
 penolakannya, sehingga keterkucilan Rasul saw dari masyarakat makin
kuat. Akibatnya, dakwah di Makkah dan sekitarnya semakin sulit dan
masyarakat Makkah memperlihatkan kekufuran dan perlawanannya yang
amat kejam, sehingga menjadikan cita-cita dakwah melemah.


Kamis, 22 September 2011

Bagaimana Palestina Bisa Terjajah?

Palestina, mendengar namanya saja kita sudah terbayang dengan penderitaan rakyatnya yang sekan tiada akhir. Geram, sedih, gusar, bermacam-macam perasaan bercampur aduk jika dihadapkan dengan fakta palsetina yang masih dijajah dengan fisik saat ini. Setiap manusia yang memiliki hati pasti akan simpati pada keadaannya.
Palestina merupakan bagian dari negri syam, yang saat ini terpecah menjadi 4 negara yaitu, lebanon, suriah, yordania, dan pestina. Syam sendiri telah ditaklukkan tanpa peperangan pada masa khalifah Umar bin Khatab, dan sejak itu syam menjadi bagian dari wilayah khilafah islamiyyah. Khilafah islamiyyah memperlakukan adil baik Muslim maupun nasrani yang hidup di Palestina. Namun pada akhir abad ke sebelas, Yerusalem, yang merupakan kota bersejarah kenabian jatuh pada pasukan koalisi eropa yang beragama kristen. Banyak korban yang berjatuhan akibat perang salib yang dilancarkan koalisi eropa ini, dilain pihak Khilafah Islamiyyah juga sedang menghadapi musuh yang menyerang keBaghdad  Ibu kota, sehingga pembebasan Yerusalem membutuhkan waktu waktu 100 tahun.
Setelah itu Yerusalem kembali ke pangkuan Khilafah islamiyyah hingga abad 19. Khilafah islamiyyah saat itu sedang menghadapi permasalahan yang sangat komplek, baik dari internal maupun external. Permasalahan internal seperti malasnya kaum muslimin mempelajari ilmi-ilmu islam sehingga kaum muslim sulit menemukan ulama yang bisa berijtihad, hal itu berdampak pada tidak mampunya ulama menjawab masalah-masalah kekinian. Sementara dilain pihak eropa yang sejatinya menyimpan dendam pada khilafah islamiyyah terus melancarkan serangan baik secara langsung maupun tak langsung. Mereka menyebarkan paham-paham kufur, seperti nasionalisme, sehingga negri-negri islam mulai melepaskan diri dari khilafah islamiyyah. Mereka juga menghasut para pemuda dengan gaya hidup barat yang terlihat menyenangkan. Mereka juga merusak para wanitanya agar tidak lagi menutup aurat, sehingga pemuda-pemudanya yang lemah imannya semakin rusak olehnya. Dan yang paling parah, mereka juga menanamkan ide-ide kufur pada tentara-tentara islam, hingga berujung pada kudeta yang dilakukan oleh Mustafa kemal la’natullah alaih yang mengasingkan Khalifah Sultan Abdul Hamid II hingga wafatnya.
Sejak itulah babak baru penjajahan terhadap palestina, Inggris mengirimkan Yahudi besar-besaran ke tanah palestina dan membentuk negara disana yang kita kenal Israel sekarang dengan membantai dan mengusir jutaan penduduknya. Sementara kekuatan kaum muslimin sudah terpecah, dan tidak mampu lagi mencegah hal ini terjadi. Karena pada hakikatnya khilafah-lah kekuatan kaum muslimin, hal ini dikatakan Mentri Luar Negri Inggris Lord Curzon : “Yang penting Turki telah dihancurkan dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan spiritiual mereka, yaitu Khilafah dan Islam”. (Zulfahmi, 22 September 2011)
Bahan Bacaan:

Rabu, 21 September 2011

Hukum Menyentuh Al-Qur’an Tanpa Wudhu

Mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanafi mensyaratkan orang untuk suci baik dari hadats kecil maupun besar sebelum menyentuh mushaf Al-Qur’an. Namun Mazhab Zhahiri membolehkan menyentuh mushaf Al-Qur’an tanpa wudhu. Perbedaan dua pendapat ini disebabkan perbedaan penafsiran dari ayat:

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci.” (Al-Wa-qi’ah: 79)

Jumhur (mayoritas) ulama mengharamkan menyentuh Al-Qur’an tanpa wudhu karena menfasirkan ayat diatas bahwa suci yang dimaksud adalah suci secara mutlak (baik dari hadats kecil maupun besar). Pendapat yang membolehkan menyentuh Al-Qur’an tanpa wudhu menafsirkan kitab yang dimaksud adalah kitab lauh mahfuzh, bukan Al-Qur’an , dan “orang suci” ditafsirkan adalah malaikat. Ada juga yang menafsirkan kitab yang dimaksud adalah Al-Qur’an sebelum diturunkan kedunia.

Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan sekaligus pada malam 24 Ramadhan, lalu diletakkan di Baitul Izzah pada langit dunia. Kemudian malaikat Jibril menurunkannya kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur.” (HR. Muhammad bin Nashr, Ibnu Marduwaih, Ath-Thabarani, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan Adh-dhiya’ Al-Maqdisi. Al-Hakim dan Adh-Dhiya’ menshahihkannya).

Arti suci (thahir) sendiri tidak memiliki makna yang satu, arti suci bisa bermakna orang yang beriman sebab (mukmin), Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang munsyrik dihukumin najis”(QS. Taubah: 20)
Arti suci juga bisa bermakna orang yang tidak junub (suci dari hadats besar saja), karena Allah berfirman:
“Jika kamu junub maka hendaklah kamu bersuci”(QS. Al-Maidah: 6)

Namun perlu diperhatikan bahwa suci (thahir) dalam ayat diatas berada pada makna umum, tidak ada pengkhususan, sehingga makna suci yang dimaksud adalah suci secara mutlak (baik dari hadats kecil maupun besar). Berarti orang diwajibkan untuk wudhu sebelum menyentuh mushaf Al-Qur’an jika berhadats kecil, dan wajib mandi jika berhadats besar. Hal ini karena kaidah ushul fiqh:

“suatu dalil yang bersifat umum tetap pada keumumannya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya” [Dr.Muhammad Husain Abdullah, Al Wadhih fi Ushul Al Fiqh, hal.318]  

“Lafadz umum (amm) adalah ialah suatu lafadz yang menunjukkan satu makna yang mencangkup seluruh satuan yang tidak terbatas dalam jumlah tertentu” (rahmat Syafi’I, 2007.193)

Dengan demikian pendapat yang terkuat adalah tidak boleh menyentuh Al-Qur’an tanpa berwudhu jika berhadats kecil (seperti: buang air kecil dan besar, kentut, menyentuh kuful dan dubur, dan menyentuh lawan jenis), begitu juga wajib untuk mandi wajib bagi yang berhadat besar (seperti: bersetubuh, mimpi basah, haidh, dan nifas), meskipun pendapat yang membolehkan adalah termasuk pendapat islami yang kita wajib untuk bertoleransi didalamnya.(Zulfahmi, 21 September 2011)

Bahan bacaan:
Fiqh Madzhab Syafi’i, Drs. Ibnu Mas’ud
Bidayatul Mujtahid, Ibnu rusyd
Nailul Authar, Imam Asyaukani

   

Selasa, 20 September 2011

Menemukan Kebenaran Dengan Akal

Islam sama sekali tidak menghinakan akal manusia. Allah memuji orang yang berpikir hingga menemukan kebenaran.
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS. 45: 13)
Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS. 13: 4)
Masih banyak lagi ayat-ayat Qur’an yang mengajak kaum muslimin untuk berpikir secara jernih. Kebenaran islam pun tidak mungkin dapat dicapai oleh kaum muslimin kecuali dengan menggunakan akal. Begitu juga hanya orang berakallah yang dibebankan syariat islam, seperti shalat, zakat, haji, jihad, dst.
Hanya saja manusia terkadang tidak bisa membedakan akal yang bersih dengan hawa nafsu. Atau barangkali akal juga terkadang sudah tercampur dengan pengaruh –pengaruh doktrin, pengalaman masa lalu, kejadian-kejadian lain yang setiap orang bisa berbeda. Bahkan sebagaian orang memanfaatkan akal sebagai cara memenuhi hawa nafsunya, sehingga menjadikan manusia lebih hina daripada binatang.
Maka untuk mencari kebenaran kita harus membedakan dalam diri kita, mana akal, mana nafsu, mana doktrin, dan pengalaman masa lalu. Akal yang bersih seperti ketika kita memahami bahwa 1+1=2, maka inilah akal. Setelah kita bedakan, mari kita mulai dari akal, memikirkan apakah tuhan itu ada atau tidak ada. Perlulah kita melihat diri kita, lingkungan kita, agar kita bisa merasakan “keajaiban” dan segera mengatakan “tidak mungkin semua ini ada dengan kebetulan”, jumlah  species serta tumbuhan yang tidak bisa kita hitung jumlahnya, semuanya memiliki sistem tubuh yang sangat sempurna, maka tidak ada keraguan pasti ada “pembuat” dari semua ini. [1]
Setelah kita yakin akan adanya tuhan, maka perlulah kita melihat semua agama yang ada. Dengan akal kita bisa berpikir bahwa Tuhan tidak mungkin sama dengan makhluk, jika makhluk makan pasti tuhan tidak butuh makan, jika makhluk mati pasti tuhan itu kekal, jika makhluk itu lemah maka tuhan tidak munglkin lemah, dan seterusnya. Yesus yang dituhankan oleh kristiani, tidak dapat diterima akal, karena dia hanyalah manusia, dan dia mengakui dirinya (dalam banyak ayat di injil) hanyalah manusia yang lemah, tidak berdaya, bahkan mati. Budha juga bukan tuhan, sebab dia manusia, dilahirkan dari rahim ibu, tumbuh dari kecil layaknya manusia biasa, bahkan juga mati. Kita juga menolak doktrin Hindu bahwa mereka memuja banyak Dewa, padahal dewa itu (menurut doktrin mereka) seperti keadaan manusia, seperti memiliki anak.
Tuhan yang kita sembah mestilah pencipta kita, tidak masuk akal jika kita menyembah yang bukan menciptakan kita, meski dia mendatangkan banyak manfaat bagi kita. Ini menolak segala ajaran yang menyembah sesuatu, padahal ia yakin yang disembah itu bukan penciptanya. Seperti firaun atau haman yang mengaku dirinya memiliki kekuasaan seperti tuhan, akal kita jelas menolaknya, sebab mereka manusia biasa, hanya saja memiliki kekuasaan, seberapa besar pun kekuasaan mereka tetap mereka tertolak disebut sebagai tuhan, karena bukanlah mereka yang menciptakan kita. Hal ini juga berlalu bagi bagi bangsa Qurais, yang menyembah berhala, meski berhala itu dimaksudkan sebagai perantara dengan Allah, ini jelas ini tidak bisa diterima, jika memang mereka mengakui bahwa Allah itu yang menciptakan mereka, maka yang disembah semestinya adalah Allah bukan berhala. [2]
Maka tidak boleh ada pemisahan mana yang menciptakan kita, mana yang memberi kemanfaatan pada kita, mana yang menghancurkan kita. Kalaupun begitu keadaannya maka tetaplah pencipta yang paling pantas kita sebut tuhan, yang lain merupakan makhluk (hasil ciptaan) dari sang pencipta, jelas tidak layak menyandang gelar tuhan. Maka dari logika ini dapat diambil kesimpulan “tidaklah mungkin tuhan itu lebih dari satu”, Dialah pencipta, Dia juga yang memberi rizki, dan Dia juga yang bisa menghancurkan kita.
Kita hanya menjumpai ajaran seperti ini pada Nabi-nabi yang mengajarkan tauhid. Mereka selalu datang dari masa ke masa, setiap nabi wafat digantikan dengan nabi yang lain. Nabi yang datang tidak terbatas pada bani israel saja, tapi semua bangsa diturunkan masing-masing utusan-Nya. Ada yang mensinyalir seperti beberapa tokoh yang ditokohkan hindu adalah nabi, dengan beberapa alasan. Ada juga yang bilang budha adalah nabi. Namun semua ajaran “nabi” itu diselewengkan hingga berubah dari ajaran aslinya. Kita tidak tahu pasti tentang hal ini, dan memang tidak perlu tahu, karena itu tidak penting untuk kita ketahui. Yang terpenting adalah kita mengikuti siapa nabi terakhir sebelum kita lahir.
Tidak ada nabi yang mengatakan dirinya nabi terakhir kecuali Muhammad bin Abdullah, yang lahir di makkah (571 M). Maka yang perlu kita lakukan adalah meneliti, apakah benar Muhammad adalah nabi. Cara tradisional mengetahui apakah orang itu nabi atau tidak adalah dengan melihat mukjizatnya. Nabi Muhammad menunjukkan beberapa mukjizatnya, seperti membelah bulan[3] dan isra miraj, yang semua itu disaksikan baik oleh orang kafir maupun muslim dan riwayatnya datang pada kita lewat jalur mutawatir (banyak jalur). Mukjizat terbesarnya tidak lain adalah Al-Qur’an, yang dari masa ke masa kebenarannya terus terbukti secara ilmiah. Al-Qur’an juga mengajarkan manusia sebuah tata negara yang paling baik, sebab dia bisa merubah suatu bangsa yang tiap sukunya saling berperang kemudian bersatu membentuk kekuasaan yang paling maju, mengungguli dari semua bangsa saat itu hingga abad 18, dan ini bukan karena Al-Qur’an tetapi karena kaum muslimin sudah mulai “malas” mematuhi perintah Al-Qur’an.
Muhammad bin Abdullah juga terbukti sebagai nabi, karena terdapat perbedaan gaya bahasa antara perkataannya, dan Al-Qur’an. Hal tersebut karena Al-Qur’an ini bukanlah karangan Muhammad, tetapi wahyu dari Allah. Masih banyak lagi bukti bahwa nabi Muhammad yang membawa agama islam, yang merupakan agama dengan syariat untuk manusia akhir zaman,yang semua itu bisa kita baca dari Kitab sirah nabawiyyah, yang didalamnya memuat perjalanan nabi Muhammad SAW dari lahir hingga wafat dengan periwayatan yang shahih.
Maka bagi kita yang merasa berakal, tidak ada pilihan lain bagi kita untuk menerima islam sebagai agama kita, Al-Qur’an sebagai kitab kita, dan dan syariat islam sebagai aturan bagi kita, tanpa perlu lagi melihat apakah syariat itu mudah atau susah, masuk akal atau tidak masuk akal, karena pada dasarnya kita menerima islam sudah melaui jalur akal. (Zulfahmi, 20 September 2011)

[1] "Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu." (QS. Al Infithaar, 82:6-8)
[2] “Katakanlah; Siapakah yang memberikan rezki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang berkuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan siapakah yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan. Maka sungguh mereka akan mengatakan, ‘Allah’….” (QS. Yunus: 31)
“Katakanlah; ‘Milik siapakah bumi beserta seluruh isinya, jika kalian mengetahui ?’ Maka niscaya mereka akan menjawab, ‘Milik Allah’. Katakanlah,’Lalu tidakkah kalian mengambil pelajaran ?’ Dan tanyakanlah; ‘Siapakah Rabb penguasa langit yang tujuh dan pemilik Arsy yang agung ?’ Niscaya mereka menjawab,’Semuanya adalah milik Allah’ Katakanlah,’Tidakkah kalian mau bertakwa’ Dan tanyakanlah,’Siapakah Dzat yang di tangannya berada kekuasaan atas segala sesuatu, Dia lah yang Maha melindungi dan tidak ada yang sanggup melindungi diri dari azab-Nya, jika kalian mengetahui ?’ Maka pastilah mereka menjawab, ‘Semuanya adalah kuasa Allah’ Katakanlah,’Lantas dari jalan manakah kalian ditipu?.’” (QS. Al-Mu’minuun: 84-89)

[3] Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa sebelum Rasulullah (saw) hijrah, berkumpullah tokoh2 kafir Quraiy, seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah dan Al ‘Ash bin Qail. Mereka meminta kepada nabi Muhammad (saw) untuk membelah bulan. Kata mereka, “Seandainya kamu benar2 seorang nabi, maka belahlah bulan menjadi dua.” Rasulullah (saw) berkata kepada mereka, “Apakah kalian akan masuk Islam jika aku sanggup melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya.” Lalu Rasulullah (saw) berdoa kepada Allah agar bulan terbelah menjadi dua. Rasulullah (saw) memberi isyarat dengan jarinya, maka bulanpun terbelah menjadi dua. Selanjutnya sambil menyebut nama setiap orang kafir yang hadir, Rasulullah (saw) berkata, “Hai Fulan, bersaksilah kamu. Hai Fulan, bersaksilah kamu.” Demikian jauh jarak belahan bulan itu sehingga gunung Hira nampak berada diantara keduanya. Akan tetapi orang2 kafir yang hadir berkata, “Ini sihir!” padahal semua orang yang hadir menyaksikan pembelahan bulan tersebut dengan seksama. Atas peristiwa ini Allah (swt) menurunkan ayat Al Qur’an: ” Telah dekat saat itu (datangnya kiamat) dan bulan telah terbelah. Dan jika orang2 (kafir) menyaksikan suatu tanda (mukjizat), mereka mengingkarinya dan mengatakan bahwa itu adalah sihir.” (QS Al Qomar 54:1-2)

Senin, 19 September 2011

Permusuhan Terhadap Dakwah Rasulullah SAW

Tatkala Rasul saw diutus dengan membawa Islam, masyarakat
membicarakan dirinya dan dakwahnya, sementara Quraisy sendiri
paling sedikit berkomentar tentang hal tersebut. Hal ini karena
mereka pada mulanya belum menyadarinya, dan menganggap perkataan
Muhammad tidak lebih dari sekadar cerita para pendeta dan ahli hikmah
belaka. Mereka pun meyakini bahwa orang-orang akan kembali kepada
agama nenek moyangnya, sehingga mereka tidak mempedulikan dan
tidak pula melarangnya. Sewaktu Muhammad lewat di majelis mereka,
mereka hanya mengatakan, “Inilah putra ‘Abdul Muthallib yang biasa
membicarakan sesuatu dari langit.” Sikap seperti itu terus berlangsung
demikian.
         Namun, setelah dakwahnya berjalan dalam waktu yang belum
terlalu panjang, mereka mulai menyadari bahaya dakwah tersebut dan
sepakat untuk menentang, memusuhi, dan memeranginya. Mereka
menyimpulkan dengan pikiran yang dangkal untuk memerangi dakwah
Muhammad dengan berbagai tekanan dan mendustakan kenabiannya.
Kemudian mereka mendatangi beliau sambil mengajukan berbagai
pertanyaan tentang mukjizat yang menjadi penguat risalahnya. Mereka
berkata, mengapa Muhammad tidak mampu mengubah Shafa dan
Marwa menjadi emas? Mengapa tidak turun suatu kitab yang tertulis
dari langit yang memperbincangkan dirinya? Mengapa Jibril yang panjang
lebar dibicarakan Muhammad tidak pernah menampakkan diri kepada
mereka? Mengapa dia tidak mampu menghidupkan orang mati, tidak
bisa memindahkan gunung, sehingga Makkah tidak terus-menerus 
terpenjara di sekelilingnya? Mengapa dia tidak mampu menciptakan mata
air yang lebih segar dari air Zam Zam, padahal dia lebih tahu kebutuhan
penduduk negerinya terhadap air? Dan mengapa Tuhannya tidak
mewahyukan kepada dia tentang harga barang-barang dagangan,
sehingga mereka bisa mendapat keuntungan di masa depan.
         Demikianlah, mereka terus-menerus menyerang Rasul dan
dakwahnya dengan cara hina dan menyakitkan. Mereka terus menerus
mempergunjingkan hal itu, tetapi hal itu tidak membelokkan Rasul dari
dakwahnya. Bahkan beliau tetap meneruskan seruannya kepada manusia
menuju agama Allah, disertai dengan memaki-maki berhala-berhala itu,
mencelanya, merendahkannya, dan menganggap bodoh atas akal orang-
orang yang menyembahnya dan menyucikannya. Urusannya menjadi
semakin besar bagi Quraisy. Mereka lalu menggunakan berbagai sarana
untuk memalingkan Muhammad dari dakwahnya, namun tidak berhasil.
Sarana-sarana terpenting yang mereka gunakan untuk menyerang
dakwah ini ada tiga, yaitu: (1) Penganiayaan, (2) Berbagai propaganda
di dalam dan di luar kota Makkah, dan (3) Pemboikotan.
         Mengenai penganiayaan, maka hal ini telah menimpa Nabi saw,
meskipun berada dalam perlindungan kaumnya (keluarganya). Begitu
juga menimpa seluruh kaum Muslim yang menjadi pengikutnya. Mereka
telah merancang berbagai cara untuk menimpakan penganiayaan, dan
menggunakan semua jenis tindakan tersebut. Keluarga Yasir telah disiksa
dengan siksaan yang amat sadis agar mereka meninggalkan agamanya.
Siksaan itu tidak berpengaruh sedikit pun pada keluarga ini kecuali
semakin mantapnya iman dan keteguhan mereka. Sewaktu mereka
tengah menyiksa keluarga Yasir, Rasul saw lewat di depan mereka, seraya
memberikan kabar gembira, “Sabarlah, wahai keluarga Yasir.
Sesungguhnya tempat yang dijanjikan kepada kalian adalah Surga.
Sesungguhnya aku tidak memiliki apa pun dari Allah untuk kalian.” Saat
Rasul mengatakan pada mereka bahwa tempat yang dijanjikan untuk
mereka adalah surga, maka tidak ada yang dilakukan Sumayah, istri
Yasir, kecuali berkata, “Sesungguhnya aku telah melihatnya dengan jelas,
wahai Rasul.” Seperti itulah kafir Quraisy secara terus-menerus menyiksa
Nabi dan para sahabatnya.
         Ketika kafir Quraisy menyadari bahwa perlawanan terhadap
dakwah dengan menggunakan cara tersebut tidak membawa hasil, maka
mereka beralih dengan cara lain, yaitu dengan senjata propaganda
memusuhi Islam dan kaum Muslim di mana-mana, baik di dalam kota
Makkah maupun di luar Makkah, seperti di Habsyi. Mereka menggunakan
cara propaganda itu dengan segala bentuknya dan modelnya, seperti
berdebat, menggugat, mencaci, melemparkan berbagai macam isu atau
tuduhan. Propaganda itu juga digunakan untuk menyerang akidah Islam
dan para pemeluknya, membusuk-busukkan isinya dan menghina
esensinya. Mereka melontarkan kebohongan-kebohongan tentang Rasul
dan menyiapkan semua kata-kata yang ditujukan untuk propaganda
memusuhi Muhammad, baik di Makkah maupun di luar Kota Makkah,
terutama propaganda di musim haji. Mengingat betapa pentingnya
propaganda memusuhi Rasul bagi kafir Quraisy, maka sekelompok orang
dari mereka berkumpul di rumah Walid bin al-Mughirah. Di rumah itu
mereka bermusyawarah mengenai apa yang akan mereka katakan tentang
Muhammad kepada orang-orang Arab yang datang ke Makkah di musim
haji. Sebagian mereka mengusulkan hendaknya Muhammad dicap
sebagai seorang dukun. Namun, Walid menolaknya seraya mengatakan
bahwa Muhammad itu tidak memiliki karakter dukun, baik gerak-gerik
maupun gaya bicaranya. Sebagian yang lain mengusulkan agar menuduh
Muhammad sebagai orang gila. Usulan ini pun ditolak oleh Walid, karena
tidak satu pun tanda-tanda yang menunjukkan Muhammad itu gila.
Sebagian lagi mengusulkan agar mencap Muhammad sebagai tukang
sihir. Usulan ini juga ditolak oleh Walid, karena kenyataannya Muhammad
tidak pernah meniupkan mantera-mantera sihir pada buhul-buhul tali,
juga tidak pernah melakukan aksi penggunaan sihir sedikit pun.
         Setelah mereka berdebat dan berdikusi, akhirnya sepakat untuk
menuduh Muhammad sebagai tukang sihir lewat ucapan, lalu mereka
membubarkan diri. Kemudian mereka menyebar di antara delegasi haji
dari kalangan Arab untuk memperingatkan mereka supaya berhati-hati
terhadap ucapan-ucapan Muhammad, karena dia seorang penyihir lewat
ucapan; dan apa pun yang dia katakan adalah sihir yang dapat
memisahkan seseorang dari saudara, ibu, bapak, istri, dan keluarganya.
Mereka juga menakut-nakuti siapa saja yang mendengarkan Muhammad
maka akan terkena sihirnya yang dapat memisahkan dirinya dari
keluarganya. Tetapi propaganda-propaganda tersebut tidak membawa
hasil apa-apa dan tidak mampu menghalangi manusia dari dakwah Islam.
Lalu, mereka menemui Nadhir bin al-Harits dan menugaskannya untuk
melakukan propaganda memusuhi Rasul saw. Nadhr melaksanakan tugas
tersebut dengan cara setiap Rasul berada di suatu tempat untuk mengajak
manusia kepada agama Allah, maka Nadhir mengambil tempat duduk
di belakang majelis beliau, seraya mengisahkan kisah-kisah Persia dan
agamanya. Dia mengatakan, “Dengan apa Muhammad akan
menceritakan sesuatu yang lebih baik dari kisahku. Bukankah dia hanya
bercerita tentang orang-orang terdahulu seperti yang juga kulakukan?”
Kaum Quraisy pun menggunakan kisah-kisah itu dan menyebarkannya
di tengah-tengah masyarakat. Mereka juga melontarkan isu bahwa apa
yang Muhammad sampaikan tidak lain adalah ajaran yang pernah
disampaikan oleh seorang pemuda tanggung Nasrani yang bernama Jabr
dan bukan berasal dari sisi Allah. Isu tersebut terus menyebar luas dan
banyak sekali yang terpengaruh, hingga Allah menolaknya dalam surat
an-Nahl: 103:
“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata,
‘Sesungguhnya al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia
kepadanya (Muhammad).’ Padahal bahasa orang yang mereka
tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajm, sedang
al-Quran ini dalam bahasa Arab yang nyata.” (TQS. an-Nahl [16]:
103)
        Demikianlah berbagai macam propaganda kafir Quraisy itu
berlanjut di kawasan Jazirah. Mereka tidak merasa cukup dengan itu.
Saat mendengar bahwa sebagian kaum Muslim hijrah ke Habsyi, mereka
segera mengirim dua orang utusan untuk menyebarkan isu menentang
kaum Muslim di hadapan Raja Najasyi, sehingga dia akan mengusir dari
negerinya. Dua orang utusan itu adalah ‘Amru bin ‘Ash dan ‘Abdullah
bin Rabi’ah. Keduanya tiba di Habsyi, dan segera mempersembahkan
hadiah kepada pasukan pengawal Raja Najasyi agar mereka membantu
keduanya untuk memulangkan kembali kaum Muslim ke Makkah.
Kemudian keduanya menghadap Raja Najasyi dan berkata, “Wahai
Paduka Raja, anak-anak bodoh dari golongan kami telah melarikan diri
dan berlindung di negeri anda. Mereka adalah kaum pemecah belah
agama kaum mereka sendiri. Mereka tidak akan masuk ke dalam agama
anda. Mereka datang dengan membawa agama yang mereka buat-buat
sendiri. Kami tidak mengetahuinya demikian juga anda. Orang-orang
mulia dari kaum mereka, bapak-bapak mereka, paman-paman mereka,
dan keluarga-keluarga mereka telah mengutus kami berdua menghadap
anda, agar anda mengembalikan mereka kepada kaumnya. Kaum mereka
lebih tinggi dan lebih mengetahui kekurangan-kekurangan mereka.”
         Kemudian Raja Najasyi memutuskan untuk mendengar langsung
dari kaum Muslim tentang pendapat mereka dalam hal tersebut. Dia
meminta wakil dari kaum Muslim dan setelah wakil itu hadir, maka Raja
Najasyi bertanya, “Agama apa ini yang telah memisahkan diri dari kaum
kalian, dan dengan agama itu pula kalian tidak akan masuk ke dalam
agamaku, juga ke dalam agama siapa pun dari berbagai milah yang ada?”
Ja’far bin Abi Thalib memberikan jawaban dengan menjelaskan keadaan
mereka di masa Jahiliah beserta sifat-sifat mereka. Kemudian menjelaskan
tentang hidayah yang dibawa Islam dan perubahan keadaan mereka
setelah masuk Islam. Ja’far juga memaparkan bagaimana kejamnya
siksaan kaum Quraisy kepada mereka (“Tatkala mereka menindas,
menganiaya, membatasi ruang gerak, dan berusaha memisahkan kami
dengan agama kami, maka kami keluar menuju ke negeri anda. Kami
memilih anda dari pada yang lain, dan kami berharap dapat bertetangga
dengan anda. Kami juga mengharap tidak mendapatkan penganiayaan
dari sisi anda”). Raja Najasyi kembali bertanya kepada Ja’far, “Apakah
engkau membawa sesuatu yang datang bersama Rasul kalian yang berasal
dari Allah yang bisa kalian bacakan kepadaku?” “Ya ada,” jawab Ja’far.
Kemudian dia membacakan kepadanya surat Maryam dari bagian awal
hingga firman Allah:
“Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata,
‘Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam
ayunan?’ [Tiba-tiba] Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah.
Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikanku seorang nabi 
Dan Dia menjadikanku seorang yang diberkati di mana saja aku berada
dan Dia memerintahkanku [mendirikan] salat dan [menunaikan] zakat
selama aku hidup dan berbakti kepada ibuku. Dan Dia tidak
menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan
semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari
aku meninggal, serta pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.’”
(TQS. Maryam [19]: 29-33).
        Sewaktu para pembesar istana mendengar ayat ini, mereka berkata,
“Ini adalah kata-kata yang keluar dari sumber yang sama, yang menjadi
sumber kata-kata junjungan kita al-Masih.” Raja Najasyi lalu berkata, “Demi
Dzat yang ‘Isa datang dengan kata-kata ini, sesungguhnya ini benar-benar
keluar dari sumber yang satu.” Setelah itu Raja Najasyi menoleh kepada
dua utusan kafir Quraisy dan berkata kepada keduanya, “Pulanglah kalian
berdua! Demi Allah, saya tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian
berdua.”
        Dua orang utusan itu keluar dari ruang pertemuan Najasyi dan
keduanya berpikir untuk menggunakan cara lain, hingga pada hari kedua
‘Amru bin ‘Ash kembali menemui Najasyi dan berkata kepadanya, “Kaum
Muslim benar-benar membicarakan ‘Isa bin Maryam dengan kata-kata
buruk dan kotor!, maka kirimlah seseorang kepada mereka dan tanyakan
kepada mereka apa yang akan mereka ungkapkan tentang hal itu”. Lalu
Najasyi mengirim utusan kepada kaum Muslim dan menanyakan
pendapat mereka mengenai ‘Isa. Maka Ja’far menjawab, “Kami berkata
mengenai ‘Isa sesuai dengan apa yang kami peroleh dari Nabi kami.
Beliau mengatakan bahwa ‘Isa adalah hamba Allah, utusan Allah, ruh
Allah, dan kalimat Allah yang dihembuskan kepada Maryam, perawan
suci.” Raja Najasyi kemudian mengambil sepotong kayu dan membuat
garis di atas tanah seraya berkata kepada Ja’far, “Antara agama kalian
dan agama kami (perbedaannya) tidak lebih dari garis ini.” Maka dua
orang utusan kafir Quraisy keluar lalu pulang melalui pedalaman Hunain
ke kota Makkah.
        Demikianlah, berbagai propaganda menemui kegagalan dan
tenggelam. Kekuatan kebenaran yang diserukan Rasul saw dengan amat
gamblang, dan tampak pada lidah beliau, mengungguli seluruh
propaganda busuk. Cahaya Islam yang baru terbit mampu mencerai-
beraikan semua isyu dan propaganda. Karena itu, Quraisy beralih pada
senjata ketiga, yaitu pemboikotan dan mereka sepakat untuk memboikot
Rasul dan para kerabatnya. Mereka membuat perjanjian tertulis, yang
isinya memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib secara total.
Quraisy tidak akan melakukan pernikahan dengan mereka juga kalangan
Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib tidak boleh menikahi mreka.
Quraisy tidak akan menjual komoditas apapun kepada mereka dan tidak
pula membeli apapun dari mereka. Mereka menempelkan naskah
perjanjian tersebut di bagian dalam Ka’bah dengan diberi penjelasan
tambahan serta piagam. Mereka meyakini bahwa strategi pemboikotan
tersebut akan berpengaruh lebih besar dari pada dua strategi sebelumnya
yaitu penyiksaan dan propaganda. Masa pemboikotan berlangsung
selama tiga tahun dan mereka menunggu apakah Bani Hasyim dan Bani
Abdul Muthallib akan meninggalkan Muhammad juga apakah kaum
Muslim mau meninggalkan keislaman mereka. Sehingga Muhammad
akan benar-benar sendirian dengan kemungkinan dia akan meninggalkan
dakwahnya atau dakwahnya tersebut tidak lagi berbahaya baik bagi
Quraisy maupun agama mereka. Hanya saja, hal tersebut tidak
berpengaruh sedikitpun pada Rasul saw, melainkan makin berpegang
teguh kepada tali agama Allah, makin kuat menggengam agama Allah
dan semakin bersemangat di jalan dakwah mengajak manusia kepada
Allah. Demikian juga kekuatan dan keteguhan orang-orang Mukmin yang
menyertai beliau tidak surut. Penyebaran dakwah Islam di kota Makkah
dan di luar Makkah tidak mengalami kemunduran yang berarti. Hingga
akhirnya kabar pemboikotan kafir Quraisy pada Muhammad sampai ke
telinga suku-suku Arab yang berada di luar Kota Makkah. Akibatnya,
dakwah mencuat keluar dan tersebar luas di tengah-tengah kabilah-
kabilah Arab, demikian juga penyebutan nama Islam menyebar luas di
Jazirah. Para musafir sering membicarakan pemboikotan itu, walau
demikian aksi boikot terus berlangsung dan kelaparan terjadi di mana-
mana. Sementara itu naskah pemboikotan yang telah dicanangkan kafir
Quraisy masih berlangsung realisasinya. Rasul dan seluruh keluarganya
berlindung di bukit-bukit pinggiran kota Makkah. Mereka didera berbagai
penderitaan, kelaparan, kekurangan, kefakiran, dan kesempitan. Hampir
saja mereka tidak mendapatkan sarana apapun yang dapat mendukung
kelemahan mereka. Begitu juga tidak ada satu kesempatan pun bagi
mereka untuk berkumpul dan berbincang dengan masyarakat, kecuali
pada bulan-bulan yang dimuliakan saat Rasul Saw berada di Ka’bah.
Beliau dalam kesempatan tersebut selalu mengajak bangsa Arab menuju
agama Allah dan memberi kabar gembira kepada mereka dengan pahala
dari-Nya, serta memberikan peringatan keras kepada mereka dengan
siksaaan dan azab dari-Nya. Setelah itu beliau kembali ke bukit-bukit.

        Kasus ini membangkitkan simpati bangsa Arab kepada kaum
Muslim. Bahkan, di antara mereka ada yang menerima dakwah Islam.
Ada juga yang mengirimkan makanan dan minuman secara sembunyi-
sembunyi. Hisyam bin ‘Amru biasa datang dengan membawa unta —
yang membawa makanan dan gandum— yang dia tuntun pada tengah
malam, hingga sampai ke perbukitan tersebut. Di sanalah dia melepas
tali kekang untanya, kemudian dia pukul perut untanya sehingga pergi
sendiri ke arah bukit. Kaum Muslim menangkap unta tadi dan membagi-
bagikan muatannya, sedangkan untanya mereka sembelih dan dagingnya
mereka makan bersama-sama. Keadaan tersebut terus berlangsung selama
tiga tahun berturut-turut, hingga dunia terasa menghimpit mereka hingga
Allah mengirimkan kemudahan dan pemboikotan itu pun berakhir. Lima
pemuda Quraisy, yaitu Zuhair bin Abi Umayah, Hisyam bin ‘Amru,
Muth’im bin ‘Adi, Abu al-Bukhturi bin Hisyam, dan Zam’ah bin al-Aswad
berkumpul dan membahas tentang naskah perjanjian dan masalah
pemboikotan. Mereka semuanya marah, antara satu dengan lainnya
menampakkan kemurkaan. Kemudian mereka sepakat dan berjanji untuk
membatalkan perjanjian tersebut dan merobek-robek naskahnya. Pada
hari berikutnya, mereka pergi bersama menuju Ka’bah, tiba-tiba Zuhair
datang dan thawaf di Baitullah sebanyak tujuh kali kemudian dia berteriak
menyeru manusia, “Wahai penduduk Makkah, kenapa kita makan minum
dengan senang dan berpakaian bagus, sedangkan Bani Hasyim
mengalami kebinasaan. Mereka dilarang berdagang dan berjual beli. Demi
Allah, aku tidak akan duduk hingga naskah pemboikotan yang zalim ini
tercabik-cabik!”. Abu Jahal hampir tidak kuat mendengar hal itu lalu
berteriak dengan keras, “Kamu bohong! Demi Allah, jangan kamu robek!”
Tiba-tiba dari beberapa sisi Baitullah terdengar teriakan bersahut-sahutan.
Zam’ah, Abu al-Bukhturiy, Muth’im, dan Hisyam, semuanya
mendustakan Abu Jahal dan mendukung Zuhair. Sejak saat itu Abu Jahal
menyadari bahwa pemboikotan telah berakhir pada malam itu juga.
Kebanyakan orang Arab menyetujui penghapusan pemboikotan itu.
Perlawanan mereka (suku-suku Arab) telah membangkitkan berbagai
upaya buruk dan jahat, sehingga dalam diri Abu Jahal timbul rasa takut,
yang memaksanya introspeksi. Muth’im segera merobek naskah perjanjian
tersebut, dia mendapati naskah perjanjian itu telah dimakan rayap, kecuali
bagian awalnya yang berbunyi: Bismika Allaahumma.
        Dengan demikian, kesempatan bagi Rasul saw dan para
sahabatnya kembali terbuka untuk turun dari daerah perbukitan menuju
kota Makkah. Rasul dan kaum Muslim atas pertolongan Allah berhasil
mengakhiri pemboikotan dan mereka kembali sehingga beliau saw dapat
melanjutkan aktivitas dakwahnya, hingga jumlah kaum Muslim bertambah
banyak. Demikianlah, berbagai langkah Quraisy dalam bentuk
penganiayaan, propaganda, dan pembaikotan telah gagal dan tidak
mampu memaksa kaum Muslim meninggalkan agamanya. Aksi tersebut
tidak berhasil menghentikan Rasul dari dakwahnya, hingga Allah SWT
memenangkan dakwah Islam meski dihadang oleh berbagai kesulitan
dan siksaan.
(sumber: kitab Daulah Islam karya Syeikh Taqiyuddin Annabhani)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More