Senin, 14 November 2011

Hukum Shalat Berjamaah

Para ulama salaf maupun khalaf berbeda pendapat mengenai hukum shalat berjamaah, ada yang mewajibkan, sunnah muakkad, dan ada juga yang berpendapat bahwa shalat berjamaah hukumnya fardhu kifayah. 

Dalil shalat jamaah adalah wajib

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mendengar adzan lalu tidak datang maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.”(HR. Ibnu Majjah)

Rasulullah SAW bersabda: “Demi dzat yang jiwaku ada ditanganNya, sungguh aku bertekad meminta dikumpulkan kayu bakar lalu dikeringkan (agar mudah dijadikan kayu bakar). Kemudian aku perintahkan shalat, lalu ada yang beradzan. Kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat dan aku tidak berjamaah untuk menemui orang-orang (lelaki yang tidak berjama’ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka”(HR. Bukhari-Muslim)

“Seorang buta mendatangi Nabi  dan berkata: “wahai Rasulullah aku tidak mempunyai seorang yang menuntunku ke masjid”. Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah untuk boleh shalat dirumah. Lalu beliau memberikan keringanan kepadanya. Ketika ia meninggalkan nabi langsung Rasulullah memanggilnya dan bertanya: “apakah anda mendengar panggilan adzan shalat? Dia menjawab: “ya”. Lalu beliau berkata: “penuhilah!”.(HR. Muslim)

Dalil-dalil diatas yang sangat tegas menunjukkan tentang wajibnya shalat berjamaah, bahkan jika seorang mendengar azan, lalu sengaja tidak shalat berjamaah di masjid tanpa uzur maka shalatnya tidak bakal diterima, alias tidak sah. Bahkan orang buta sekalipun tidak diberi keringanan oleh Nabi Muhammad SAW karena masih bisa mendengar seruan azan.

Dalil shalat jamaaah adalah sunnah muakkad

Rasulullah SAW bersabda: “Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendiri sebanyak 27 derajat” (HR. Bukhari & Muslim)

Dari dalil diatas diambil kesimpulan bahwa shalat berjamaah adalah keutamaan tambahan (nafilah), sehingga hukumnya sunnah. Namun karena shalat berjamaah ini juga ditegaskan oleh rasulullah maka hukumnya menjadi sunnah muakadah (sunnah yang sangat dianjurkan).

Dalil shalat jamaah adalah fardhu kifayah

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah dari 3 orang di dalam satu kampung, atau dalam satu dusun, yang tidak ada shalat jamaah dikalangan mereka, melainkan setan telah berkuasa atas mereka, maka usahakanlah untuk shalat berjamaah. Ingatlah, serigala itu dapat menangkap seekor kambing yang terpisah dari kumpulannya (HR. Abu Dawud dan Tirmizi)

Dari hadis diatas diambil kesimpulan bahwa disetiap kampung wajib ada shalat berjamaah, sebab jika tidak maka kampung tersebut akan dikuasai setan. Sehingga shalat berjamaah hukumnya fardhu kifayah (kewajiban yang jika sudah terlaksana maka muslim yang lain terlepas dari kewajiban itu).

PENDAPAT TERKUAT

Pendapat yang paling kuat menurut kami adalah pendapat pertama, yaitu bagi laki-laki yang sudah balligh, jika mendengar azan,  maka dia wajib untuk ikut shalat berjamaah di masjid, jika ini ditinggalkan tanpa uzur maka shalatnya tidak sah. Alasannya sebagai berikut:

1.       1. Kita diwajibkan Allah untuk memakmurkan masjid

Allah berfirman: ”Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”(QS Attaubah: 18)

2.        2. Kita diperintahkan ruku’ bersama orang-orang yang ruku’

Allah berfirman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’“ [QS. Al Baqarah :43]

Imam Al-Kasani berkata dalam Al-Badai’ Ash-Shana’i (1/155), “Allah Ta’ala memerintahkan ruku’ bersama-sama orang-orang yang ruku’, dan yang demikian itu dengan cara bergabung dalam ruku’. Maka ini merupakan perintah menegakkan shalat berjama’ah.”

3.       3. Azan adalah seruan Allah yang haram untuk diabaikan

“Barang siapa yang mendengar adzan lalu tidak datang maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.”(HR. Ibnu Majjah)

“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.“ [QS. Al Qalam :42-43]

Ibnul Qayyim berkata: “Sisi pendalilannya adalah Allah Ta’ala menghukum mereka pada hari kiamat dengan memberikan penghalang antara mereka dengan sujud ketika diperintahkan untuk sujud. Mereka diperintahkan sujud didunia dan enggan menerimanya. Jika sudah demikian maka menjawab panggilan mendatangi masjid dengan menghadiri jamaah shalat, bukan sekedar melaksanakannya di rumahnya saja”.

4.       4. Ancaman rasulullah SAW kepada orang yang tidak menghadiri shalat jamaah

Rasulullah SAW bersabda: “Demi dzat yang jiwaku ada ditanganNya, sungguh aku bertekad meminta dikumpulkan kayu bakar lalu dikeringkan (agar mudah dijadikan kayu bakar). Kemudian aku perintahkan shalat, lalu ada yang beradzan. Kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat dan aku tidak berjamaah untuk menemui orang-orang (lelaki yang tidak berjama’ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka”(HR. Bukhari-Muslim)

Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini telah menerangkan bahwa shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain, karena kalau shalat berjamaah itu hanya sunnah saja, Rasulullah tidak akan berbuat keras terhadap orang-orang yang meninggalkannya, dan kalau fardhu kifayah pastilah telah cukup dengan pekerjaan beliau dan yang bersama beliau.”

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak diterima sholat oarng yang bertetangga dengan Masjid, kecuali ia sholat di Masjid”, lalu sahabat yang lain bertanya :” Siapakah orang yang bertetangga dengan masjid tersebut?”. Ali Menjawab :”Yaitu orang yang mendengar azan dari masjid tersebut” (HR. Ahmad)

Ancaman membakar rumah dan tidak diterimanya shalat adalah ancaman yang tidak main-main, sehingga ketegasan dalam hadits ini bisa dipahami sebagai penegasan akan kewajiban menghadiri shalat jamaah.

5.       5. Tidak shalat jamaah adalah ciri munafik

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya shalat yang paling berat buat orang munafik adalah shalat Isya dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang akan mereka dapat dari kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak. Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.” (HR Bukhari 644, 657, 2420, 7224. Muslim 651 dan lafaz hadits ini darinya).

Ibnu Mas’ud berkata: “Kalau seandainya kalian shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana shalatnya orang yang tidak hadir (shalat jamaah) karena dia berada di rumahnya, berarti kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Dan sekiranya kalian meninggalkan sunnah-sunnah nabi kalian, niscaya kalian akan tersesat. Tidaklah seseorang bersuci dengan baik, kemudian dia menuju salah satu masjid yang ada, melainkan Allah akan menulis kebaikan baginya dari setiap langkah kakinya, dan dengannya Allah mengangkat derajatnya, dan menghapus kesalahan karenanya. Menurut pendapat kami (para sahabat), tidaklah seseorang itu tidak hadir shalat jamaah, melainkan dia seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya. Sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah di antara dua orang hingga diberdirikan si shaff (barisan) shalat yang ada.” (HR. Muslim no. 654)

Kewajiban shalat 5 waktu berjamaah di masjid ini berlaku pada laki-laki dan bukan pada perempuan. Perempuan dianjurkan shalat berjamaah dirumahnya, namun jika tidak ada teman yang diajak untuk berjamaah dalam rumahnya maka menjadi sunnah baginya untuk shalat di masjid. (lihat tulisan KH. Shidiq Aljawi, Hukum shalat berjamaah bagi perempuan).

Pembedaan ini bukanlah diskriminasi, tetapi adalah sematamata ketundukan kita pada syariah Allah, dimana laki-laki memang menerima kewajiban yang lebih banyak dari perempuan dalam suatu hal (misal shalat berjamaah, jihad, mencari nafkah, dan shalat jum’at), tetapi dalam hal lain bisa jadi perempuan menerima lebih banyak kewajiban (misal menutup aurat, kewajiban memakai kerudung dan jilbab).

‎"Allah tidak mewajibkan kaum wanita melaksanakan shalat berjamaah, shalat jum'at, atau pun jihad. sebaliknya, Allah MEWAJIBKAN semua aktivitas tersebut bagi kaum pria" (Sistem pergaulan dalam islam, Syeikh Taqiyuddin Annabhani, hal. 52)

Semoga tulisan ini menjadi penerang untuk diri saya sendiri dan pembaca sekalian, semoga Allah mengistiqomahkan kita dalam islam. (Zulfahmi, 14/11/2011)


uzur dibolehkan tidak shalat jamaah bisa dilihat disini

Ref:
Imam Ibnu Hajar Al-Ats Qalani, Bulughul Maram
Drs. Ibnu Masud, Fiqh mdazhab Syafii (edisi lengkap)
Dr. Taqiyuddin Annabhani, Sistem pergaulan dalam islam (terj. Dari Nizham Ijtima’i fil islam)

5 komentar:

menurut ku berjamaah hukum nya sunnah muakad, dan wajib untuk shalat jum'at

dari materi di atas semua pendapat dikemukakan oleh para ulama, subhanallah mas zulfadh udah jadi ulama Ya? sampe berani mengemukanan pendapatnya sendiri. (tanpa dalil lagi..)

@anonim: bukannya ada bayak dalil diatas ya..? kok dibilang tanpa dalil..??

Kita saling menghargai antar ijtihad, saya tidak berijtihad ya teman-teman, saya hanya memandang pendapat terkuat yang saya ambil , saya juga menghargai yang berpendapat sunnah muakkad :)

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More