Senin, 19 September 2011

Permusuhan Terhadap Dakwah Rasulullah SAW

Tatkala Rasul saw diutus dengan membawa Islam, masyarakat
membicarakan dirinya dan dakwahnya, sementara Quraisy sendiri
paling sedikit berkomentar tentang hal tersebut. Hal ini karena
mereka pada mulanya belum menyadarinya, dan menganggap perkataan
Muhammad tidak lebih dari sekadar cerita para pendeta dan ahli hikmah
belaka. Mereka pun meyakini bahwa orang-orang akan kembali kepada
agama nenek moyangnya, sehingga mereka tidak mempedulikan dan
tidak pula melarangnya. Sewaktu Muhammad lewat di majelis mereka,
mereka hanya mengatakan, “Inilah putra ‘Abdul Muthallib yang biasa
membicarakan sesuatu dari langit.” Sikap seperti itu terus berlangsung
demikian.
         Namun, setelah dakwahnya berjalan dalam waktu yang belum
terlalu panjang, mereka mulai menyadari bahaya dakwah tersebut dan
sepakat untuk menentang, memusuhi, dan memeranginya. Mereka
menyimpulkan dengan pikiran yang dangkal untuk memerangi dakwah
Muhammad dengan berbagai tekanan dan mendustakan kenabiannya.
Kemudian mereka mendatangi beliau sambil mengajukan berbagai
pertanyaan tentang mukjizat yang menjadi penguat risalahnya. Mereka
berkata, mengapa Muhammad tidak mampu mengubah Shafa dan
Marwa menjadi emas? Mengapa tidak turun suatu kitab yang tertulis
dari langit yang memperbincangkan dirinya? Mengapa Jibril yang panjang
lebar dibicarakan Muhammad tidak pernah menampakkan diri kepada
mereka? Mengapa dia tidak mampu menghidupkan orang mati, tidak
bisa memindahkan gunung, sehingga Makkah tidak terus-menerus 
terpenjara di sekelilingnya? Mengapa dia tidak mampu menciptakan mata
air yang lebih segar dari air Zam Zam, padahal dia lebih tahu kebutuhan
penduduk negerinya terhadap air? Dan mengapa Tuhannya tidak
mewahyukan kepada dia tentang harga barang-barang dagangan,
sehingga mereka bisa mendapat keuntungan di masa depan.
         Demikianlah, mereka terus-menerus menyerang Rasul dan
dakwahnya dengan cara hina dan menyakitkan. Mereka terus menerus
mempergunjingkan hal itu, tetapi hal itu tidak membelokkan Rasul dari
dakwahnya. Bahkan beliau tetap meneruskan seruannya kepada manusia
menuju agama Allah, disertai dengan memaki-maki berhala-berhala itu,
mencelanya, merendahkannya, dan menganggap bodoh atas akal orang-
orang yang menyembahnya dan menyucikannya. Urusannya menjadi
semakin besar bagi Quraisy. Mereka lalu menggunakan berbagai sarana
untuk memalingkan Muhammad dari dakwahnya, namun tidak berhasil.
Sarana-sarana terpenting yang mereka gunakan untuk menyerang
dakwah ini ada tiga, yaitu: (1) Penganiayaan, (2) Berbagai propaganda
di dalam dan di luar kota Makkah, dan (3) Pemboikotan.
         Mengenai penganiayaan, maka hal ini telah menimpa Nabi saw,
meskipun berada dalam perlindungan kaumnya (keluarganya). Begitu
juga menimpa seluruh kaum Muslim yang menjadi pengikutnya. Mereka
telah merancang berbagai cara untuk menimpakan penganiayaan, dan
menggunakan semua jenis tindakan tersebut. Keluarga Yasir telah disiksa
dengan siksaan yang amat sadis agar mereka meninggalkan agamanya.
Siksaan itu tidak berpengaruh sedikit pun pada keluarga ini kecuali
semakin mantapnya iman dan keteguhan mereka. Sewaktu mereka
tengah menyiksa keluarga Yasir, Rasul saw lewat di depan mereka, seraya
memberikan kabar gembira, “Sabarlah, wahai keluarga Yasir.
Sesungguhnya tempat yang dijanjikan kepada kalian adalah Surga.
Sesungguhnya aku tidak memiliki apa pun dari Allah untuk kalian.” Saat
Rasul mengatakan pada mereka bahwa tempat yang dijanjikan untuk
mereka adalah surga, maka tidak ada yang dilakukan Sumayah, istri
Yasir, kecuali berkata, “Sesungguhnya aku telah melihatnya dengan jelas,
wahai Rasul.” Seperti itulah kafir Quraisy secara terus-menerus menyiksa
Nabi dan para sahabatnya.
         Ketika kafir Quraisy menyadari bahwa perlawanan terhadap
dakwah dengan menggunakan cara tersebut tidak membawa hasil, maka
mereka beralih dengan cara lain, yaitu dengan senjata propaganda
memusuhi Islam dan kaum Muslim di mana-mana, baik di dalam kota
Makkah maupun di luar Makkah, seperti di Habsyi. Mereka menggunakan
cara propaganda itu dengan segala bentuknya dan modelnya, seperti
berdebat, menggugat, mencaci, melemparkan berbagai macam isu atau
tuduhan. Propaganda itu juga digunakan untuk menyerang akidah Islam
dan para pemeluknya, membusuk-busukkan isinya dan menghina
esensinya. Mereka melontarkan kebohongan-kebohongan tentang Rasul
dan menyiapkan semua kata-kata yang ditujukan untuk propaganda
memusuhi Muhammad, baik di Makkah maupun di luar Kota Makkah,
terutama propaganda di musim haji. Mengingat betapa pentingnya
propaganda memusuhi Rasul bagi kafir Quraisy, maka sekelompok orang
dari mereka berkumpul di rumah Walid bin al-Mughirah. Di rumah itu
mereka bermusyawarah mengenai apa yang akan mereka katakan tentang
Muhammad kepada orang-orang Arab yang datang ke Makkah di musim
haji. Sebagian mereka mengusulkan hendaknya Muhammad dicap
sebagai seorang dukun. Namun, Walid menolaknya seraya mengatakan
bahwa Muhammad itu tidak memiliki karakter dukun, baik gerak-gerik
maupun gaya bicaranya. Sebagian yang lain mengusulkan agar menuduh
Muhammad sebagai orang gila. Usulan ini pun ditolak oleh Walid, karena
tidak satu pun tanda-tanda yang menunjukkan Muhammad itu gila.
Sebagian lagi mengusulkan agar mencap Muhammad sebagai tukang
sihir. Usulan ini juga ditolak oleh Walid, karena kenyataannya Muhammad
tidak pernah meniupkan mantera-mantera sihir pada buhul-buhul tali,
juga tidak pernah melakukan aksi penggunaan sihir sedikit pun.
         Setelah mereka berdebat dan berdikusi, akhirnya sepakat untuk
menuduh Muhammad sebagai tukang sihir lewat ucapan, lalu mereka
membubarkan diri. Kemudian mereka menyebar di antara delegasi haji
dari kalangan Arab untuk memperingatkan mereka supaya berhati-hati
terhadap ucapan-ucapan Muhammad, karena dia seorang penyihir lewat
ucapan; dan apa pun yang dia katakan adalah sihir yang dapat
memisahkan seseorang dari saudara, ibu, bapak, istri, dan keluarganya.
Mereka juga menakut-nakuti siapa saja yang mendengarkan Muhammad
maka akan terkena sihirnya yang dapat memisahkan dirinya dari
keluarganya. Tetapi propaganda-propaganda tersebut tidak membawa
hasil apa-apa dan tidak mampu menghalangi manusia dari dakwah Islam.
Lalu, mereka menemui Nadhir bin al-Harits dan menugaskannya untuk
melakukan propaganda memusuhi Rasul saw. Nadhr melaksanakan tugas
tersebut dengan cara setiap Rasul berada di suatu tempat untuk mengajak
manusia kepada agama Allah, maka Nadhir mengambil tempat duduk
di belakang majelis beliau, seraya mengisahkan kisah-kisah Persia dan
agamanya. Dia mengatakan, “Dengan apa Muhammad akan
menceritakan sesuatu yang lebih baik dari kisahku. Bukankah dia hanya
bercerita tentang orang-orang terdahulu seperti yang juga kulakukan?”
Kaum Quraisy pun menggunakan kisah-kisah itu dan menyebarkannya
di tengah-tengah masyarakat. Mereka juga melontarkan isu bahwa apa
yang Muhammad sampaikan tidak lain adalah ajaran yang pernah
disampaikan oleh seorang pemuda tanggung Nasrani yang bernama Jabr
dan bukan berasal dari sisi Allah. Isu tersebut terus menyebar luas dan
banyak sekali yang terpengaruh, hingga Allah menolaknya dalam surat
an-Nahl: 103:
“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata,
‘Sesungguhnya al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia
kepadanya (Muhammad).’ Padahal bahasa orang yang mereka
tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajm, sedang
al-Quran ini dalam bahasa Arab yang nyata.” (TQS. an-Nahl [16]:
103)
        Demikianlah berbagai macam propaganda kafir Quraisy itu
berlanjut di kawasan Jazirah. Mereka tidak merasa cukup dengan itu.
Saat mendengar bahwa sebagian kaum Muslim hijrah ke Habsyi, mereka
segera mengirim dua orang utusan untuk menyebarkan isu menentang
kaum Muslim di hadapan Raja Najasyi, sehingga dia akan mengusir dari
negerinya. Dua orang utusan itu adalah ‘Amru bin ‘Ash dan ‘Abdullah
bin Rabi’ah. Keduanya tiba di Habsyi, dan segera mempersembahkan
hadiah kepada pasukan pengawal Raja Najasyi agar mereka membantu
keduanya untuk memulangkan kembali kaum Muslim ke Makkah.
Kemudian keduanya menghadap Raja Najasyi dan berkata, “Wahai
Paduka Raja, anak-anak bodoh dari golongan kami telah melarikan diri
dan berlindung di negeri anda. Mereka adalah kaum pemecah belah
agama kaum mereka sendiri. Mereka tidak akan masuk ke dalam agama
anda. Mereka datang dengan membawa agama yang mereka buat-buat
sendiri. Kami tidak mengetahuinya demikian juga anda. Orang-orang
mulia dari kaum mereka, bapak-bapak mereka, paman-paman mereka,
dan keluarga-keluarga mereka telah mengutus kami berdua menghadap
anda, agar anda mengembalikan mereka kepada kaumnya. Kaum mereka
lebih tinggi dan lebih mengetahui kekurangan-kekurangan mereka.”
         Kemudian Raja Najasyi memutuskan untuk mendengar langsung
dari kaum Muslim tentang pendapat mereka dalam hal tersebut. Dia
meminta wakil dari kaum Muslim dan setelah wakil itu hadir, maka Raja
Najasyi bertanya, “Agama apa ini yang telah memisahkan diri dari kaum
kalian, dan dengan agama itu pula kalian tidak akan masuk ke dalam
agamaku, juga ke dalam agama siapa pun dari berbagai milah yang ada?”
Ja’far bin Abi Thalib memberikan jawaban dengan menjelaskan keadaan
mereka di masa Jahiliah beserta sifat-sifat mereka. Kemudian menjelaskan
tentang hidayah yang dibawa Islam dan perubahan keadaan mereka
setelah masuk Islam. Ja’far juga memaparkan bagaimana kejamnya
siksaan kaum Quraisy kepada mereka (“Tatkala mereka menindas,
menganiaya, membatasi ruang gerak, dan berusaha memisahkan kami
dengan agama kami, maka kami keluar menuju ke negeri anda. Kami
memilih anda dari pada yang lain, dan kami berharap dapat bertetangga
dengan anda. Kami juga mengharap tidak mendapatkan penganiayaan
dari sisi anda”). Raja Najasyi kembali bertanya kepada Ja’far, “Apakah
engkau membawa sesuatu yang datang bersama Rasul kalian yang berasal
dari Allah yang bisa kalian bacakan kepadaku?” “Ya ada,” jawab Ja’far.
Kemudian dia membacakan kepadanya surat Maryam dari bagian awal
hingga firman Allah:
“Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata,
‘Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam
ayunan?’ [Tiba-tiba] Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah.
Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikanku seorang nabi 
Dan Dia menjadikanku seorang yang diberkati di mana saja aku berada
dan Dia memerintahkanku [mendirikan] salat dan [menunaikan] zakat
selama aku hidup dan berbakti kepada ibuku. Dan Dia tidak
menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan
semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari
aku meninggal, serta pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.’”
(TQS. Maryam [19]: 29-33).
        Sewaktu para pembesar istana mendengar ayat ini, mereka berkata,
“Ini adalah kata-kata yang keluar dari sumber yang sama, yang menjadi
sumber kata-kata junjungan kita al-Masih.” Raja Najasyi lalu berkata, “Demi
Dzat yang ‘Isa datang dengan kata-kata ini, sesungguhnya ini benar-benar
keluar dari sumber yang satu.” Setelah itu Raja Najasyi menoleh kepada
dua utusan kafir Quraisy dan berkata kepada keduanya, “Pulanglah kalian
berdua! Demi Allah, saya tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian
berdua.”
        Dua orang utusan itu keluar dari ruang pertemuan Najasyi dan
keduanya berpikir untuk menggunakan cara lain, hingga pada hari kedua
‘Amru bin ‘Ash kembali menemui Najasyi dan berkata kepadanya, “Kaum
Muslim benar-benar membicarakan ‘Isa bin Maryam dengan kata-kata
buruk dan kotor!, maka kirimlah seseorang kepada mereka dan tanyakan
kepada mereka apa yang akan mereka ungkapkan tentang hal itu”. Lalu
Najasyi mengirim utusan kepada kaum Muslim dan menanyakan
pendapat mereka mengenai ‘Isa. Maka Ja’far menjawab, “Kami berkata
mengenai ‘Isa sesuai dengan apa yang kami peroleh dari Nabi kami.
Beliau mengatakan bahwa ‘Isa adalah hamba Allah, utusan Allah, ruh
Allah, dan kalimat Allah yang dihembuskan kepada Maryam, perawan
suci.” Raja Najasyi kemudian mengambil sepotong kayu dan membuat
garis di atas tanah seraya berkata kepada Ja’far, “Antara agama kalian
dan agama kami (perbedaannya) tidak lebih dari garis ini.” Maka dua
orang utusan kafir Quraisy keluar lalu pulang melalui pedalaman Hunain
ke kota Makkah.
        Demikianlah, berbagai propaganda menemui kegagalan dan
tenggelam. Kekuatan kebenaran yang diserukan Rasul saw dengan amat
gamblang, dan tampak pada lidah beliau, mengungguli seluruh
propaganda busuk. Cahaya Islam yang baru terbit mampu mencerai-
beraikan semua isyu dan propaganda. Karena itu, Quraisy beralih pada
senjata ketiga, yaitu pemboikotan dan mereka sepakat untuk memboikot
Rasul dan para kerabatnya. Mereka membuat perjanjian tertulis, yang
isinya memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib secara total.
Quraisy tidak akan melakukan pernikahan dengan mereka juga kalangan
Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib tidak boleh menikahi mreka.
Quraisy tidak akan menjual komoditas apapun kepada mereka dan tidak
pula membeli apapun dari mereka. Mereka menempelkan naskah
perjanjian tersebut di bagian dalam Ka’bah dengan diberi penjelasan
tambahan serta piagam. Mereka meyakini bahwa strategi pemboikotan
tersebut akan berpengaruh lebih besar dari pada dua strategi sebelumnya
yaitu penyiksaan dan propaganda. Masa pemboikotan berlangsung
selama tiga tahun dan mereka menunggu apakah Bani Hasyim dan Bani
Abdul Muthallib akan meninggalkan Muhammad juga apakah kaum
Muslim mau meninggalkan keislaman mereka. Sehingga Muhammad
akan benar-benar sendirian dengan kemungkinan dia akan meninggalkan
dakwahnya atau dakwahnya tersebut tidak lagi berbahaya baik bagi
Quraisy maupun agama mereka. Hanya saja, hal tersebut tidak
berpengaruh sedikitpun pada Rasul saw, melainkan makin berpegang
teguh kepada tali agama Allah, makin kuat menggengam agama Allah
dan semakin bersemangat di jalan dakwah mengajak manusia kepada
Allah. Demikian juga kekuatan dan keteguhan orang-orang Mukmin yang
menyertai beliau tidak surut. Penyebaran dakwah Islam di kota Makkah
dan di luar Makkah tidak mengalami kemunduran yang berarti. Hingga
akhirnya kabar pemboikotan kafir Quraisy pada Muhammad sampai ke
telinga suku-suku Arab yang berada di luar Kota Makkah. Akibatnya,
dakwah mencuat keluar dan tersebar luas di tengah-tengah kabilah-
kabilah Arab, demikian juga penyebutan nama Islam menyebar luas di
Jazirah. Para musafir sering membicarakan pemboikotan itu, walau
demikian aksi boikot terus berlangsung dan kelaparan terjadi di mana-
mana. Sementara itu naskah pemboikotan yang telah dicanangkan kafir
Quraisy masih berlangsung realisasinya. Rasul dan seluruh keluarganya
berlindung di bukit-bukit pinggiran kota Makkah. Mereka didera berbagai
penderitaan, kelaparan, kekurangan, kefakiran, dan kesempitan. Hampir
saja mereka tidak mendapatkan sarana apapun yang dapat mendukung
kelemahan mereka. Begitu juga tidak ada satu kesempatan pun bagi
mereka untuk berkumpul dan berbincang dengan masyarakat, kecuali
pada bulan-bulan yang dimuliakan saat Rasul Saw berada di Ka’bah.
Beliau dalam kesempatan tersebut selalu mengajak bangsa Arab menuju
agama Allah dan memberi kabar gembira kepada mereka dengan pahala
dari-Nya, serta memberikan peringatan keras kepada mereka dengan
siksaaan dan azab dari-Nya. Setelah itu beliau kembali ke bukit-bukit.

        Kasus ini membangkitkan simpati bangsa Arab kepada kaum
Muslim. Bahkan, di antara mereka ada yang menerima dakwah Islam.
Ada juga yang mengirimkan makanan dan minuman secara sembunyi-
sembunyi. Hisyam bin ‘Amru biasa datang dengan membawa unta —
yang membawa makanan dan gandum— yang dia tuntun pada tengah
malam, hingga sampai ke perbukitan tersebut. Di sanalah dia melepas
tali kekang untanya, kemudian dia pukul perut untanya sehingga pergi
sendiri ke arah bukit. Kaum Muslim menangkap unta tadi dan membagi-
bagikan muatannya, sedangkan untanya mereka sembelih dan dagingnya
mereka makan bersama-sama. Keadaan tersebut terus berlangsung selama
tiga tahun berturut-turut, hingga dunia terasa menghimpit mereka hingga
Allah mengirimkan kemudahan dan pemboikotan itu pun berakhir. Lima
pemuda Quraisy, yaitu Zuhair bin Abi Umayah, Hisyam bin ‘Amru,
Muth’im bin ‘Adi, Abu al-Bukhturi bin Hisyam, dan Zam’ah bin al-Aswad
berkumpul dan membahas tentang naskah perjanjian dan masalah
pemboikotan. Mereka semuanya marah, antara satu dengan lainnya
menampakkan kemurkaan. Kemudian mereka sepakat dan berjanji untuk
membatalkan perjanjian tersebut dan merobek-robek naskahnya. Pada
hari berikutnya, mereka pergi bersama menuju Ka’bah, tiba-tiba Zuhair
datang dan thawaf di Baitullah sebanyak tujuh kali kemudian dia berteriak
menyeru manusia, “Wahai penduduk Makkah, kenapa kita makan minum
dengan senang dan berpakaian bagus, sedangkan Bani Hasyim
mengalami kebinasaan. Mereka dilarang berdagang dan berjual beli. Demi
Allah, aku tidak akan duduk hingga naskah pemboikotan yang zalim ini
tercabik-cabik!”. Abu Jahal hampir tidak kuat mendengar hal itu lalu
berteriak dengan keras, “Kamu bohong! Demi Allah, jangan kamu robek!”
Tiba-tiba dari beberapa sisi Baitullah terdengar teriakan bersahut-sahutan.
Zam’ah, Abu al-Bukhturiy, Muth’im, dan Hisyam, semuanya
mendustakan Abu Jahal dan mendukung Zuhair. Sejak saat itu Abu Jahal
menyadari bahwa pemboikotan telah berakhir pada malam itu juga.
Kebanyakan orang Arab menyetujui penghapusan pemboikotan itu.
Perlawanan mereka (suku-suku Arab) telah membangkitkan berbagai
upaya buruk dan jahat, sehingga dalam diri Abu Jahal timbul rasa takut,
yang memaksanya introspeksi. Muth’im segera merobek naskah perjanjian
tersebut, dia mendapati naskah perjanjian itu telah dimakan rayap, kecuali
bagian awalnya yang berbunyi: Bismika Allaahumma.
        Dengan demikian, kesempatan bagi Rasul saw dan para
sahabatnya kembali terbuka untuk turun dari daerah perbukitan menuju
kota Makkah. Rasul dan kaum Muslim atas pertolongan Allah berhasil
mengakhiri pemboikotan dan mereka kembali sehingga beliau saw dapat
melanjutkan aktivitas dakwahnya, hingga jumlah kaum Muslim bertambah
banyak. Demikianlah, berbagai langkah Quraisy dalam bentuk
penganiayaan, propaganda, dan pembaikotan telah gagal dan tidak
mampu memaksa kaum Muslim meninggalkan agamanya. Aksi tersebut
tidak berhasil menghentikan Rasul dari dakwahnya, hingga Allah SWT
memenangkan dakwah Islam meski dihadang oleh berbagai kesulitan
dan siksaan.
(sumber: kitab Daulah Islam karya Syeikh Taqiyuddin Annabhani)

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More